Halo! Aku ingin cerita sedikit tentang kerapuhan prasarana internet karena gangguan-gangguan yang baru-baru ini terjadi.
Apa saja kejadiannya?
Mungkin masih teringat gangguan-gangguan di banyak layanan di internet beberapa waktu lalu. Berikut beberapa yang kualami langsung:
- YouTube (16 Oktober 2025) (twitku)
- Amazon Web Service (AWS) (19 Oktober 2025) (laporan resmi)
- GitHub (push dan pull) (13 November 2025) (laporan resmi) (twitku)
- Cloudflare (18 November 2025) (laporan resmi) (entri blog)
- Supabase (24 November 2025) (laporan resmi) (twitku)
- Google Meet (26 November 2025) (laporan resmi) (twitku)
Mungkin masih ada yang lain yang tidak kualami secara langsung.
Siapa mereka?
Amazon Web Service (AWS) menjadi salah satu layanan prasarana yang dipilih oleh banyak penyedia layanan untuk menginangkan (to host) layanan mereka. Jadi, saat AWS mengalami gangguan, mereka juga kena akibatnya. Contohnya ada Amazon dan Alexa itu sendiri, Canva, Snapchat, Slack, bahkan sampai permainan seperti Duolingo, Fortnite, dan Roblox.
GitHub menjadi layanan pilihan banyak orang untuk menginangkan repositori Git, sistem pengontrol versi. Hampir semua pengembang (developer) mengetahuinya. Aku pun juga menggunakannya, baik untuk keperluan pribadi maupun untuk keperluan pekerjaan. Waktu itu, aku sedang melakukan operasi push (mengirimkan perubahan dari komputerku ke repositori tujuan) saat melihat bahwa layanan GitHub sedang mengalami gangguan (tidak bisa push dan pull).
Cloudflare awalnya menjadi pilihan populer untuk mengamankan jaringan dari luar/internet. Banyak situs web yang menggunakan layanannya untuk mencegah serangan siber. Sayangnya, yang seharusnya melindungi itu justru membuat yang dilindunginya tidak bisa diakses sama sekali pada waktu itu. Yang terdampak ada Canva (lagi), Twitter, Uber, AWS (juga), PayPal, ChatGPT/OpenAI, dan lain-lain.
Apa yang bisa dipetik?
Banyaknya gangguan yang terjadi secara berturut-turut ini mengingatkan kita tentang pentingnya desentralisasi internet, baik prasarana maupun sarananya. Kita terlalu "setia" kepada satu layanan, padahal layanan itu juga "setia" kepada satu layanan prasarana, dan seterusnya. Hal ini memang cara paling mudah dan murah. Namun, kita akhirnya merasakan getahnya.
Perlu diketahui bahwa AWS menguasai 30% pasar layanan prasarana internet. Hal ini diikuti Microsoft Azure (20%), Google Cloud (13%), dan Alibaba Cloud (4%). Meski di bawah 50%, sebanyak 30% pasar itu terdiri dari banyak perusahaan besar atau layanan vital seperti kesehatan dan keamanan.
Begitu juga dengan Cloudflare. Walau mungkin data situs web yang menggunakan reverse proxy kurang lengkap, ada sumber yang mengatakan bahwa Cloudflare digunakan oleh 20,5% situs web secara keseluruhan atau 81,6% situs web yang menggunakan reverse proxy. Persentase yang sangat besar ini juga menunjukkan kerapuhan layanan di internet yang kita pakai sehari-hari.
Apa yang bisa kita lakukan?
Yang jelas, ketika hampir semua (atau bahkan semua) bergantung kepada satu pihak, terdapat kerapuhan yang sangat besar terhadap gangguan/masalah yang mungkin terjadi. Dalam kasus ini, saat satu pihak yang dianggap akan selalu dapat diandalkan ini ternyata mengalami gangguan juga (apalagi yang tidak sebentar), semua terkena getahnya.
Untuk para pengembang (developer), pertimbangkan pula alternatif layanan yang tersedia. Kita perlu mempelajari dan mempersiapkan rencana/prosedur khusus saat layanan yang kita gunakan untuk menjalankan operasional ini mengalami gangguan. Hal ini meliputi variasi produk dari penyedia yang sama ataupun produk lain dari penyedia lain.
Untuk para pengguna/masyarakat secara umum, cadangan adalah hal yang wajib disiapkan. Kita tidak pernah tahu kapan gangguan akan terjadi. Jangan sampai pekerjaan (atau keselamatan) diri kita terancam hanya karena satu pihak mengalami gangguan.
Penutup
Aku teringat strip komik yang juga kembali tenar saat terjadi gangguan berturut-turut waktu itu: komik xkcd yang berjudul "Dependency" (2020) berikut:
Omong-omong, tahukah kalian kalau tiap perusahaan, bahkan tiap individu, mengelola server sendiri pada awal perkembangan internet? Belum ada layanan "awan" ("cloud") waktu itu sehingga gangguan di satu layanan tidak terlalu berdampak ke layanan lainnya.
Sampai jumpa!
