Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2026

Spam Telepon yang Meresahkan

Halo!

Beberapa hari yang lalu, aku dapat panggilan telepon berulang kali tiap beberapa jam selama dua hari berturut-turut. Di satu sisi, aku jadi tahu bahwa menekan tombol volume pada ponsel akan menghentikan bunyi nada dering tanpa menutup/menerima teleponnya. Di sisi lain, kejadian ini membuatku kaget, waswas, dan resah.

Yang unik dari kejadian ini adalah bahwa sebagian besar nomor telepon yang digunakan hanya berbeda dua/tiga angka terakhir. Aku baru menyadarinya setelah membaca komentar dari pengguna lain di aplikasi Getcontact. Hal ini berarti bahwa si pelaku membeli/memesan nomor telepon dalam jumlah besar (grosir/batch).

Ini nomor-nomor telepon yang memanggilku (urut nomor):

Betul, ada 18 nomor telepon yang berbeda yang memanggilku. Semuanya kartu Mentari (+62858) dari penyedia Indosat. Tidak ada yang kutanggapi karena sebagian kecil di antaranya sudah ditandai sebagai spam di Getcontact. Selain itu, semua nomor ini tidak terdaftar di WhatsApp. Jadi, yang lainnya kuanggap sama saja karena rombongan. Sepertinya, hal ini antara telemarketing atau phishing.

Aku masih heran dengan kinerja lembaga yang berwenang dan bertugas mengatasi masalah-masalah ini. Urusan-urusan ini lamban diatasi, sedangkan urusan-urusan yang baik (tetapi "mengancam" pihak tertentu) langsung ditanggapi dengan ganas. Semoga ada perbaikan ke depannya (kalau bisa, segera).

Sampai di sini dahulu tulisanku. Tahun baru dibuka dengan panggilan-panggilan telepon tidak jelas. Semoga hal-hal baik terjadi ke depannya. Sampai jumpa!

Senin, 30 Juni 2025

Sidang dan Revisi Tesis

Halo! Kali ini, aku ingin cerita sedikit tentang kehidupanku saat ini, singkat saja.

Bulan Juni ini penuh dengan kegiatan, baik kuliah maupun kerja proyekan. Aku menyelesaikan pengumpulan data, analisis data hasil percobaan, dan penulisan laporan penelitianku. Selain itu, aku juga dapat (kerja) proyek pada bulan ini. Padat betul rasanya.

Kabar baiknya, Selasa pagi lalu, aku maju sidang tesis. Alhamdulillah, aku diluluskan! Hanya saja, catatan revisinya memang lumayan banyak. Saat ini, aku masih merevisi laporanku.

Selama sidang itu, rasanya deg-degan banget. Ada beberapa komentar yang kesulitan untuk kujawab. Untungnya, jawabanku dianggap cukup bagi para dosen penguji untuk meluluskanku.

Aku teringat masa-masa sidang skripsi dahulu itu. Rasanya juga sama. Hanya saja, memang lebih berat sidang tesis kali ini karena topik yang dibahas lebih mendalam.

Sampai di sini dahulu, ya, ceritaku. Aku mau lanjut merevisi laporanku. Sampai jumpa!

Jumat, 21 Maret 2025

Mati Listrik saat Tarawih: Relevansi Islam Sepanjang Masa

Halo! Kali ini, aku mau cerita pengalamanku saat Tarawih pekan lalu.

Kamis pekan lalu malam (atau malam Jumat pekan lalu), aku ikut rangkaian salat Isya–Tarawih di masjid dekat rumah. Masjidnya cukup besar. Ukuran lantai bagian dalam sekitar 12 meter × 12 meter. Ada sembilan baris: 6 untuk putra dan 3 untuk putri. Ada lantai dua juga, tetapi hanya dipakai untuk acara-acara tertentu, misal salat Jumat dan TPQ.

Rangkaian salat Tarawih di masjid ini 11 rakaat: 8 rakaat Tarawih (dua rakaat salam) dan 3 rakaat Witir. Bakda Isya dan sebelum Tarawih, ada ceramah singkat. Biasanya, yang jadi imam Isya dan imam Tarawih orang yang sama.

Waktu itu, sekitar 20.02 WIB, kami sedang melaksanakan Tarawih rakaat ke-3 (salat ke-2). Suasana saat itu sedang hujan. Aku berada di barisan laki-laki yang paling belakang (baris ke-4) dan di bagian tengah/belakang imam. Saat imam sedang membaca surah Al-Fatihah, mendadak listrik masjid mati. Suara imam yang lirih (mungkin karena sudah terbiasa dengan pelantang/loudspeaker) ditambah dengan bunyi hujan menyebabkan bacaan imam sukar didengar.

Saat imam memberi aba-aba untuk rukuk, "Allāhu akbar!" terdengar suara dari salah satu jemaah yang mengulangi aba-aba imam, "Allāhu akbar!" dengan suara yang lebih lantang. Posisinya sebaris denganku di sisi kanan masjid. Untuk aba-aba imam selanjutnya, para jemaah ikut mengulangi aba-aba imam dengan suara cukup lantang (di-jahr-kan) sampai selesai salat.

Setelah selesai salat Tarawih ke-2, ada yang memeriksa listrik masjid dan menyalakan listrik kembali. Sepertinya ada korsleting pada jaringan listrik kipas karena kipasnya tidak menyala selama salat-salat berikutnya. Sekitar akhir Syakban seingatku, memang ada beberapa kipas baru yang dipasang. Bisa jadi ada kekeliruan dalam pemasangannya. Setidaknya, pemutus sirkuit (MCB) melakukan tugasnya dan mengisolasi yang terjadi korsleting sehingga jaringan listrik lain masih bisa menyala dan salat berjemaah kembali dilanjutkan seperti biasanya.

Selama salat Tarawih ke-2 itu, aku terenyuh dan bangga karena ajaran Islam memang berlaku untuk semua kalangan dan semua masa. Untuk ceritaku ini, misalnya, ajaran Islam tentang mengulang aba-aba imam masih relevan walau sudah ada teknologi mikrofon dan pelantang sehingga salat berjemaah tetap bisa dilaksanakan walau sedang mati listrik dan hujan.

Aku jadi teringat masjid-masjid yang masih melakukan cara ini walau sudah menggunakan pelantang, yaitu Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan (di Indonesia) Masjid Istiqlal. Aku merasa sedang berada di masjid-masjid tersebut karena cara yang sama juga diterapkan walau hanya dua rakaat.

Sampai di sini dahulu, ya, ceritaku. Selamat melanjutkan, bahkan meningkatkan, ibadah-ibadah selama bulan Ramadan selagi masih ada waktu. Sampai jumpa!