Jumat, 21 Maret 2025

Mati Listrik saat Tarawih: Relevansi Islam Sepanjang Masa

Halo! Kali ini, aku mau cerita pengalamanku saat Tarawih pekan lalu.

Kamis pekan lalu malam (atau malam Jumat pekan lalu), aku ikut rangkaian salat Isya–Tarawih di masjid dekat rumah. Masjidnya cukup besar. Ukuran lantai bagian dalam sekitar 12 meter × 12 meter. Ada sembilan baris: 6 untuk putra dan 3 untuk putri. Ada lantai dua juga, tetapi hanya dipakai untuk acara-acara tertentu, misal salat Jumat dan TPQ.

Rangkaian salat Tarawih di masjid ini 11 rakaat: 8 rakaat Tarawih (dua rakaat salam) dan 3 rakaat Witir. Bakda Isya dan sebelum Tarawih, ada ceramah singkat. Biasanya, yang jadi imam Isya dan imam Tarawih orang yang sama.

Waktu itu, sekitar 20.02 WIB, kami sedang melaksanakan Tarawih rakaat ke-3 (salat ke-2). Suasana saat itu sedang hujan. Aku berada di barisan laki-laki yang paling belakang (baris ke-4) dan di bagian tengah/belakang imam. Saat imam sedang membaca surah Al-Fatihah, mendadak listrik masjid mati. Suara imam yang lirih (mungkin karena sudah terbiasa dengan pelantang/loudspeaker) ditambah dengan bunyi hujan menyebabkan bacaan imam sukar didengar.

Saat imam memberi aba-aba untuk rukuk, "Allāhu akbar!" terdengar suara dari salah satu jemaah yang mengulangi aba-aba imam, "Allāhu akbar!" dengan suara yang lebih lantang. Posisinya sebaris denganku di sisi kanan masjid. Untuk aba-aba imam selanjutnya, para jemaah ikut mengulangi aba-aba imam dengan suara cukup lantang (di-jahr-kan) sampai selesai salat.

Setelah selesai salat Tarawih ke-2, ada yang memeriksa listrik masjid dan menyalakan listrik kembali. Sepertinya ada korsleting pada jaringan listrik kipas karena kipasnya tidak menyala selama salat-salat berikutnya. Sekitar akhir Syakban seingatku, memang ada beberapa kipas baru yang dipasang. Bisa jadi ada kekeliruan dalam pemasangannya. Setidaknya, pemutus sirkuit (MCB) melakukan tugasnya dan mengisolasi yang terjadi korsleting sehingga jaringan listrik lain masih bisa menyala dan salat berjemaah kembali dilanjutkan seperti biasanya.

Selama salat Tarawih ke-2 itu, aku terenyuh dan bangga karena ajaran Islam memang berlaku untuk semua kalangan dan semua masa. Untuk ceritaku ini, misalnya, ajaran Islam tentang mengulang aba-aba imam masih relevan walau sudah ada teknologi mikrofon dan pelantang sehingga salat berjemaah tetap bisa dilaksanakan walau sedang mati listrik dan hujan.

Aku jadi teringat masjid-masjid yang masih melakukan cara ini walau sudah menggunakan pelantang, yaitu Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan (di Indonesia) Masjid Istiqlal. Aku merasa sedang berada di masjid-masjid tersebut karena cara yang sama juga diterapkan walau hanya dua rakaat.

Sampai di sini dahulu, ya, ceritaku. Selamat melanjutkan, bahkan meningkatkan, ibadah-ibadah selama bulan Ramadan selagi masih ada waktu. Sampai jumpa!

Jumat, 28 Februari 2025

Keamanan Bersuara: Autentikasi Dua Faktor

Halo! Kali ini singkat saja, ya.

Pernah beredar kabar-kabar menyedihkan tentang kebebasan bersuara/berekspresi yang menjadi fondasi demokrasi. Salah satunya tentang pembajakan akun yang bersuara tersebut. Setelah menyuarakan tentang hal-hal tertentu, akun mereka justru dibajak. Walau tidak diketahui identitasnya, bukanlah hal yang tidak mungkin kalau pihak berwenang memiliki kemampuan untuk melakukannya, terlebih mereka adalah pihak yang dikritik.

Hampir semua platform komunikasi masyarakat Indonesia menggunakan layanan luar negeri, misal WhatsApp, LINE, Telegram, Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, dan Gmail. Satu-satunya layanan dalam negeri hanyalah SMS dan panggilan suara seluler/telepon pulsa. Hal ini memiliki keuntungan tersendiri bagi pihak-pihak yang ingin bersuara dengan aman, yaitu akun tidak bisa diambil alih secara langsung tanpa surat pengadilan yang jelas. Layanan luar negeri pun bisa saja menolak surat tersebut. Pihak berwenang bisa saja memblokir layanan tersebut, tetapi kurasa tidak mungkin mereka akan melakukannya karena mereka pun juga menggunakannya.

Beberapa layanan ini utamanya menggunakan kata sandi sebagai cara masuknya. Namun, ada beberapa yang menggunakan nomor telepon via SMS atau telepon pulsa sebagai cara masuk utama, misal WhatsApp dan Telegram. Hal ini membuka celah bagi pihak berwenang untuk mengambil alih akun yang mereka rasa "merusak ketenteraman". Lantas, bagaimana cara mengatasi masalah ini sebagai masyarakat yang ingin bersuara?

Caranya adalah dengan menambahkan faktor autentikasi lainnya! Sebagai contoh, WhatsApp memiliki fitur autentikasi dua faktor dengan PIN yang disebut verifikasi dua langkah. Bila fitur itu dinyalakan, akun WhatsApp seseorang tidak bisa diambil alih hanya dengan memasukkan kode dari SMS yang diterima (yang sangat mungkin dialihkan oleh pihak berwenang), tetapi perlu memasukkan kode PIN yang dihafalkan (seperti sandi pada umumnya).

Dengan autentikasi dua faktor, kita bisa bersuara tanpa takut akun kita diambil alih. Namun, perlu diperhatikan bahwa keselamatan diri secara fisik bisa jadi tidak seaman yang dikira. Namun, setidaknya, belum ada cara untuk mengakses isi pikiran sampai saat ini (untuk mengetahui PIN yang dihafal) secara paksa sehingga kita bisa memilih untuk tidak memberi tahu walau mungkin akan babak belur, bahkan mati. Begini amat, ya, tinggal di wilayah yang pihak berwenangnya memusuhi rakyatnya.

Sampai di sini dahulu, ya. Tetap suarakan hak-hak kita dan tolong jaga diri juga.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan! Sampai jumpa!

Kamis, 30 Januari 2025

Satu Tahun Rutin Menulis Blog

Halo!

Pada bulan Januari 2024 lalu, aku berencana untuk mengepos setidaknya sekali setiap bulan. Hal ini kulakukan agar aku bisa rutin menulis apa pun itu, sekaligus agar blogku tidak terlalu sepi.

Aku menulis berbagai macam hal, dari pengalaman pribadi hingga materi pelajaran/perkuliahan. Aku bahkan menulis seri kriptografi dari yang sederhana hingga yang kompleks. Meski demikian, yang kutulis hanyalah yang bisa kutulis dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari. Itu pun karena kupaksa diriku untuk menulis, terutama saat sudah mendekati akhir bulan.

Rencanaku tetap merutinkan untuk mengepos setidaknya sekali setiap bulan, bahkan mungkin mencoba mengepos dua kali tiap bulannya. Hal ini mungkin sulit tercapai untuk kuartal pertama tahun ini, bahkan semester pertama tahun ini, karena aku masih harus menulis untuk Publikasi Ilmiah dan Tesis, dua mata kuliah terakhir yang harus kuselesaikan dalam studi S-2 ini.

Kualitas tulisanku kuserahkan kepada kalian, para pembaca, untuk menilainya. Aku hanya ingin ada tulisan rutin di blogku ini, kadang kusiapkan berhari-hari, kadang hanya sempat kusiapkan beberapa jam.

Semoga rencana-rencana baik kita semua tercapai, ya. Sampai jumpa!