Halo! Kali ini, aku mau cerita pengalamanku saat Tarawih pekan lalu.
Kamis pekan lalu malam (atau malam Jumat pekan lalu), aku ikut rangkaian salat Isya–Tarawih di masjid dekat rumah. Masjidnya cukup besar. Ukuran lantai bagian dalam sekitar 12 meter × 12 meter. Ada sembilan baris: 6 untuk putra dan 3 untuk putri. Ada lantai dua juga, tetapi hanya dipakai untuk acara-acara tertentu, misal salat Jumat dan TPQ.
Rangkaian salat Tarawih di masjid ini 11 rakaat: 8 rakaat Tarawih (dua rakaat salam) dan 3 rakaat Witir. Bakda Isya dan sebelum Tarawih, ada ceramah singkat. Biasanya, yang jadi imam Isya dan imam Tarawih orang yang sama.
Waktu itu, sekitar 20.02 WIB, kami sedang melaksanakan Tarawih rakaat ke-3 (salat ke-2). Suasana saat itu sedang hujan. Aku berada di barisan laki-laki yang paling belakang (baris ke-4) dan di bagian tengah/belakang imam. Saat imam sedang membaca surah Al-Fatihah, mendadak listrik masjid mati. Suara imam yang lirih (mungkin karena sudah terbiasa dengan pelantang/loudspeaker) ditambah dengan bunyi hujan menyebabkan bacaan imam sukar didengar.
Saat imam memberi aba-aba untuk rukuk, "Allāhu akbar!" terdengar suara dari salah satu jemaah yang mengulangi aba-aba imam, "Allāhu akbar!" dengan suara yang lebih lantang. Posisinya sebaris denganku di sisi kanan masjid. Untuk aba-aba imam selanjutnya, para jemaah ikut mengulangi aba-aba imam dengan suara cukup lantang (di-jahr-kan) sampai selesai salat.
Setelah selesai salat Tarawih ke-2, ada yang memeriksa listrik masjid dan menyalakan listrik kembali. Sepertinya ada korsleting pada jaringan listrik kipas karena kipasnya tidak menyala selama salat-salat berikutnya. Sekitar akhir Syakban seingatku, memang ada beberapa kipas baru yang dipasang. Bisa jadi ada kekeliruan dalam pemasangannya. Setidaknya, pemutus sirkuit (MCB) melakukan tugasnya dan mengisolasi yang terjadi korsleting sehingga jaringan listrik lain masih bisa menyala dan salat berjemaah kembali dilanjutkan seperti biasanya.
Selama salat Tarawih ke-2 itu, aku terenyuh dan bangga karena ajaran Islam memang berlaku untuk semua kalangan dan semua masa. Untuk ceritaku ini, misalnya, ajaran Islam tentang mengulang aba-aba imam masih relevan walau sudah ada teknologi mikrofon dan pelantang sehingga salat berjemaah tetap bisa dilaksanakan walau sedang mati listrik dan hujan.
Aku jadi teringat masjid-masjid yang masih melakukan cara ini walau sudah menggunakan pelantang, yaitu Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan (di Indonesia) Masjid Istiqlal. Aku merasa sedang berada di masjid-masjid tersebut karena cara yang sama juga diterapkan walau hanya dua rakaat.
Sampai di sini dahulu, ya, ceritaku. Selamat melanjutkan, bahkan meningkatkan, ibadah-ibadah selama bulan Ramadan selagi masih ada waktu. Sampai jumpa!